Info Sekolah
Senin, 11 Mei 2026
  • Selamat Datang di Website Resmi SDIT Smart Cendekia Karanganom Klaten
  • Selamat Datang di Website Resmi SDIT Smart Cendekia Karanganom Klaten
9 Maret 2026

Mengukir Mutiara yang Hilang: Mengembalikan Peran Ayah dan Adab melalui Tarbiyatul Aulad

Sen, 9 Maret 2026 Dibaca 164x Berita

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, banyak orang tua mulai merasakan kegelisahan yang sama: mengapa mendidik anak terasa semakin menantang? Tantangan yang dihadapi generasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yaitu karakter, adab, dan kesehatan mental. Berbagai laporan menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari kecemasan hingga depresi. Fenomena perundungan, kecanduan gawai dan internet, hingga degradasi kompetensi generasi juga semakin sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini semakin diperkuat dengan fakta yang cukup memprihatinkan bahwa Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless yang tinggi, bahkan menempati peringkat ketiga dunia sebagai Fatherless Country. Minimnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan anak ternyata membawa dampak yang tidak kecil. Anak yang tumbuh tanpa peran ayah memiliki risiko dua kali lebih besar untuk putus sekolah dan tiga kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Situasi ini menunjukkan bahwa keluarga, khususnya peran ayah dan ibu, memiliki posisi yang sangat penting dalam membentuk masa depan anak.

Menjawab keresahan tersebut, SDIT Smart Cendekia menyelenggarakan Kajian Wali yang menghadirkan Ustadz Rakhmad Zubair (Khadimul Ma’had Baiturrahmah), dengan tema “Mendidik Anak Sesuai Fase Usia: Meninjau Konsep Tarbiyatul Aulad dalam Islam.” Kajian ini menjadi ruang refleksi bagi para orang tua untuk kembali memahami bagaimana Islam memandang pendidikan anak sebagai amanah besar yang menentukan masa depan generasi. Dalam pemaparannya, Ustadz Rakhmad Zubair mengingatkan bahwa krisis yang dihadapi dunia pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan sistem atau kurikulum, tetapi juga berkaitan dengan apa yang disebut oleh cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai Confusing of Knowledge (kekacauan ilmu) dan Loss of Adab (hilangnya adab).

Dalam pandangan para ulama, pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan. Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang baik dan beradab, atau yang disebut sebagai insan adabi. Jika seseorang telah menjadi manusia yang baik, maka secara otomatis ia akan menjadi bagian dari masyarakat yang baik pula. Konsep ini sejalan dengan pandangan Imam Al-Ghazali yang menggambarkan hati anak seperti mutiara yang murni—bersih, lembut, dan siap diukir. Apa pun yang ditanamkan oleh orang tua pada masa awal kehidupan anak akan membentuk arah kehidupan mereka di masa depan. Karena itu, mendidik anak bukan sekadar kewajiban, tetapi amanah besar yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.

Islam sendiri telah memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana mendidik anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 78 menjelaskan bahwa manusia dianugerahi pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana belajar. Dari sinilah para ulama merumuskan bahwa pendidikan anak perlu disesuaikan dengan fase perkembangan tersebut. Pada usia 0 hingga 2 tahun, anak berada pada fase pendengaran (as-sam’a), di mana mereka lebih banyak menyerap melalui suara. Pada masa ini, orang tua dianjurkan untuk memperdengarkan hal-hal yang baik seperti lantunan Al-Qur’an, doa, dan kata-kata yang lembut.

Memasuki usia 2 hingga 7 tahun, anak mulai belajar melalui penglihatan (al-abshar). Pada fase ini, keteladanan orang tua menjadi sangat penting karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Cara orang tua berbicara, bersikap, beribadah, hingga memperlakukan orang lain akan menjadi contoh yang terekam dalam diri anak. Selanjutnya pada usia 7 hingga 14 tahun, anak mulai memasuki fase pemahaman hati (al-af’idah). Pada tahap ini, orang tua dapat mulai mengajak anak berdiskusi, memberikan pemahaman yang lebih dalam, serta membimbing mereka untuk menjalankan tanggung jawab ibadah dengan kesadaran.

Kajian ini juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan misi besar yang melibatkan keluarga dan masyarakat. Setiap aktivitas kehidupan sejatinya adalah bagian dari proses pendidikan. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua—terutama peran ayah—menjadi sangat penting dalam membangun generasi yang kuat secara ilmu, iman, dan akhlak.

Melalui kajian ini, para wali murid diajak untuk kembali menyadari bahwa pola asuh yang tepat dapat menjadi penawar bagi berbagai tantangan zaman. Ketika pendidikan dijalankan dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah, maka harapannya akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki adab, karakter, dan rasa syukur kepada Allah.

Dengan semangat kebersamaan antara sekolah dan orang tua, SDIT Smart Cendekia terus berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan adab. Karena pada akhirnya, masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasinya, tetapi oleh seberapa baik akhlak dan nilai yang tertanam dalam diri mereka sejak kecil.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar