Kualitas sebuah sekolah ditentukan oleh gairah para gurunya untuk terus belajar dan berinovasi. Semangat inilah yang tertangkap kamera dalam rangkaian kegiatan supervisi akademik di SDIT Smart Cendekia baru-baru ini. Bukan sekadar penilaian rutin, momen ini menjadi panggung bagi para pendidik untuk menyajikan pembelajaran yang interaktif, berbasis teknologi, dan mengedepankan aspek islam terpadu.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga kualitas pembelajaran, Senin (02/02), sekolah memulai rangkaian kegiatan Supervisi Guru. Di bawah kawalan langsung Kepala Sekolah, Ustadz Hanggoro Tri Nugroho, S.Pd., para pendidik hebat kita seperti Ustadzah Naning Prahesti, S.Pd., Ustadzah Winda Kurniati, S.Pd., dan Ustadzah Nuraeni, S.Pd. siap menunjukkan aksi kreatif dan inovasi pembelajaran di ruang kelas.
Tahap pra-observasi dilaksanakan dalam forum komunitas belajar (kombel) “Kawan Baik” SDIT Smart Cendekia. Pada tahap ini, dilakukan diskusi dan perencanaan pembelajaran dengan fokus area pengembangan pada kemampuan guru dalam memandu proses belajar yang efektif, meliputi pembukaan proses pembelajaran, pendekatan dalam mendampingi murid, penggunaan strategi, metode, dan media pembelajaran, dan penutupan proses pembelajaran
Tahap pra-observasi bertujuan untuk menyelaraskan tujuan pembelajaran, strategi pengajaran, serta kesiapan guru sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Pada tahap observasi, Kepala Sekolah hadir secara langsung di kelas untuk mengamati proses pembelajaran. Suasana kelas terlihat interaktif, kondusif, dan partisipatif, dengan penerapan metode pembelajaran aktif yang berpusat pada murid. Kali ini, tim editor berkesempatan mengintip keseruan di kelas Ustadzah Naning, Ustadzah Winda, dan Ustadzah Nur.
Ustadzah Naning membawa nuansa teknologi yang kental dalam pembelajarannya. Memanfaatkan platform visual, beliau menggunakan YouTube sebagai media pembuka untuk memancing rasa ingin tahu siswa. Materi yang kompleks pun menjadi lebih mudah dicerna melalui tayangan yang menarik.
Setelah memberikan penjelasan dan pengarahan yang mendalam, para siswa ditantang untuk menuangkan pemahamannya melalui worksheet terstruktur. Sebagai penutup yang dinamis, Ustadzah Naning menggelar kuis berbasis digital menggunakan Quizizz.
“Anak-anak sangat antusias saat sesi kuis dimulai. Suasana kelas jadi kompetitif namun tetap menyenangkan!” ujar Ustadz Hanggoro.


2. Belajar Kontekstual Bersama Ustadzah Winda: Menjelajah Dunia via Google Maps
Pindah ke kelas sebelah, Ustadzah Winda mengawali kegiatan dengan Ice Breaking yang menyegarkan suasana, memastikan seluruh siswa siap secara mental dan fisik untuk belajar.
Ada yang unik dalam metode beliau kali ini. Ustadzah Winda menerapkan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan teknologi Interactive Flat Panel (IFP). Beliau mengajak siswa “jalan-jalan virtual” dengan menunjukkan lokasi nyata melalui Google Maps. Hal ini membuat materi terasa lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Kegiatan pun dilanjutkan dengan kerja kelompok. Para siswa tampak aktif berdiskusi menyelesaikan worksheet, melatih kerja sama tim dan kemampuan komunikasi mereka sejak dini.


3. Menautkan Akar Keluarga dalam Doa: Indahnya Belajar Silsilah Bersama Ustadzah Nuraeni”
Di sudut kelas yang lain, Ustadzah Nuraeni, S.Pd. membawa siswa dalam sebuah perjalanan emosional yang dikemas secara modern. Materi mengenai Silsilah Keluarga tidak lagi sekadar hafalan nama, melainkan sebuah penelusuran jati diri yang menarik. Ustadzah Nuraeni memanfaatkan aplikasi Canva dan proyektor untuk memvisualisasikan garis keturunan. Bagan keluarga tampil begitu apik dan berwarna, membuat setiap siswa antusias melihat setiap silsilah yang dipaparkan. Belajar menjadi lebih seru saat siswa ditantang menyusun puzzle silsilah keluarga. Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka saling berdiskusi dan bekerja sama menyatukan potongan informasi menjadi bagan kekerabatan yang utuh. Inilah yang menjadi pembeda. Tidak hanya belajar sejarah keluarga, Ustadzah Nuraeni dengan lembut menghubungkan materi ini dengan nilai-nilai ketauhidan. Beliau mengajarkan bahwa setiap garis silsilah adalah jembatan untuk meraih ridha Allah melalui bakti dan doa kepada orang tua.
“Anak-anak tidak hanya belajar siapa kakek dan nenek mereka, tetapi juga diingatkan untuk selalu melangitkan doa bagi kedua orang tua sebagai wujud cinta tertinggi dalam Islam“ ungkap Ustadzah Nuraeni.


Tahap pasca-observasi dilakukan melalui sesi coaching dan pemberian umpan balik konstruktif. Pada sesi ini, Kepala Sekolah memberikan apresiasi atas inovasi dan praktik baik yang telah dilakukan guru di kelas, sekaligus menyampaikan masukan sebagai bahan pengembangan pembelajaran ke depan.
Proses refleksi ini diharapkan mampu mendorong guru untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik serta menghadirkan pembelajaran yang semakin berkualitas.
Harapan Hanggoro Tri Nugroho kedepannya, melalui supervisi akademik yang dilaksanakan secara berkala, SDIT Smart Cendekia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan, sejalan dengan visi dan misi sekolah.
Tinggalkan Komentar