Semangat inovasi yang telah tergambar pada rangkaian supervisi sebelumnya kembali berlanjut di ruang-ruang kelas lainnya. Jika pada sesi awal kita menyaksikan kreativitas Ustadzah Naning, Ustadzah Winda, dan Ustadzah Nuraeni dalam menghidupkan pembelajaran, maka kali ini giliran para ustadzah kelas 4 dan 5 menunjukkan jejak praktik baik yang tak kalah inspiratif.
Supervisi akademik yang dilaksanakan pada 11-12 Februari 2026 di SDIT Smart Cendekia terus bergerak dinamis—menjadi ruang refleksi sekaligus panggung aktualisasi bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Dengan pendekatan yang beragam, pemanfaatan teknologi, serta strategi pembelajaran aktif yang berpusat pada murid, suasana kelas kembali berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh antusiasme dan partisipasi.
Dari sinilah cerita supervisi berlanjut—merajut makna di setiap sudut kelas, meneguhkan komitmen bahwa inovasi dalam pembelajaran bukanlah peristiwa sesaat, melainkan budaya yang terus tumbuh dan menguat.
Kepala Sekolah kembali hadir langsung di kelas untuk mengamati proses pembelajaran. Suasana tampak interaktif, kondusif, dan partisipatif—metode pembelajaran aktif yang berpusat pada murid benar-benar terasa dalam setiap aktivitas.
Pada supervisi kali ini, tim berkesempatan mengintip keseruan di kelas Ustadzah Nia Nur Insani, S.Pd., Ustadzah Salsabila Adzani R., S.Pd., Ustadzah Vasthi Dea Pavita, S.Pd., dan Ustadzah Agustina Teja Rahmawati, S.Pd.—masing-masing dengan ciri khas dan inovasi pembelajaran yang menginspirasi.
Penasaran bagaimana keseruannya? Yuk, kita simak bersama!
Di kelas 5A, Ustadzah Nia mengajak siswa memahami materi Perjalanan Makanan dalam Tubuh melalui pembelajaran kontekstual berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP), siswa diajak menyimak video sistem pencernaan manusia dari YouTube.
Visual yang jelas membuat konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Kelas pun berlangsung aktif, ditandai dengan diskusi dan tanya jawab yang hidup. Sebagai asesmen, siswa diminta menjelaskan kembali alur sistem pencernaan secara runtut—sebuah bukti bahwa pembelajaran visual mampu meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa.
Melalui video pembelajaran, anak-anak lebih mudah membayangkan proses yang terjadi di dalam tubuh. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi benar-benar melihat dan memahami” Ujar Ustadzah Nia.


Suasana tak kalah seru hadir di kelas 5B bersama Ustadzah Bila. Melalui tema unik “Warung Data”, siswa diajak mempelajari materi Data dan Penyajian Data dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berbekal media PowerPoint interaktif dan LKPD berupa survei makanan kesukaan teman sekelas, siswa belajar mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data dalam bentuk diagram batang. Tidak hanya berhenti pada hitungan, siswa juga dilatih menganalisis dan menjawab soal berdasarkan data yang mereka kumpulkan sendiri. Pembelajaran pun terasa nyata, seru, dan bermakna.


Di kelas berikutnya, Ustadzah Vita mengemas materi Interaksi Sosial secara interaktif dan relevan dengan kehidupan siswa. Melalui IFP, siswa menyimak video pembelajaran dan materi visual mengenai pengertian interaksi sosial, syarat terjadinya interaksi, hingga permasalahan sosial di sekitar mereka.
Untuk memperkuat pemahaman, siswa mengerjakan LKPD dan mengikuti kuis interaktif menggunakan Wordwall. Siswa menjawab kuis secara bergantian dengan penuh semangat, menciptakan suasana belajar yang kompetitif sekaligus menyenangkan.


Pembelajaran aktif juga tampak di kelas 4B bersama Ustadzah Tina. Melalui eksperimen langsung, siswa diajak memahami konsep pengukuran volume menggunakan botol dan cup gelas dengan ukuran berbeda.
Kegiatan semakin seru dengan adanya “Lomba Mengukur Volume” antar kelompok yang melatih kerja sama, ketelitian, dan keberanian siswa dalam menyampaikan hasil pengukuran. Sebagai penutup, kuis interaktif melalui Wordwall kembali menghidupkan suasana kelas, menutup pembelajaran dengan kesan menyenangkan dan bermakna.
“Saat praktik langsung, anak-anak jauh lebih antusias. Mereka belajar bekerja sama, berdiskusi, dan menemukan konsep volume melalui pengalaman nyata,” tutur Ustadz Hanggoro.


Rangkaian supervisi ini menunjukkan bahwa ketika guru diberi ruang untuk berkreasi dan merefleksikan praktik mengajarnya, pembelajaran pun tumbuh menjadi lebih hidup. Melalui supervisi akademik yang berkelanjutan, SDIT Smart Cendekia terus meneguhkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas—mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga aktif, kritis, dan berakhlak mulia.
Tinggalkan Komentar